TUM6Tpd6GfAoGprpTSMiBSYiGd==

Cari Blog Ini

Light Dark
Ketika Kesombongan Menjadi Hijab Menuju Allah

Ketika Kesombongan Menjadi Hijab Menuju Allah

Daftar Isi
×


 







Ada manusia yang berjalan di bumi seolah-olah langit berada di bawah telapak kakinya. Merasa paling benar, paling hebat, paling berjasa, dan paling layak dihormati. Ia lupa bahwa tubuh yang ia banggakan berasal dari setetes air yang hina, dan suatu hari akan kembali menjadi tanah yang diinjak banyak orang.

Kesombongan tidak selalu tampak dalam pakaian mewah atau kendaraan mahal. Ia sering bersembunyi di balik ilmu, jabatan, kekayaan, keturunan, bahkan di balik amal ibadah. Ada yang enggan menerima nasihat karena merasa dirinya paling tahu. Ada yang meremehkan orang lain karena merasa lebih mulia. Ada yang hanya mau mendengar pujian, tetapi menutup telinga terhadap kebenaran.

Padahal, tidak ada satu pun nikmat yang kita miliki yang benar-benar berasal dari diri kita. Kecerdasan adalah pemberian Allah. Harta adalah titipan Allah. Jabatan hanyalah amanah. Kesehatan adalah pinjaman. Bahkan napas yang sedang kita hirup pun bukan hasil usaha kita.

Maka, apa yang sebenarnya pantas untuk disombongkan?

Renungkanlah. Jika Allah mencabut kesehatan dalam satu malam, hilanglah kekuatan yang selama ini dibanggakan. Jika Allah mencabut akal, lenyaplah kecerdasan yang dipuji banyak orang. Jika Allah mencabut jabatan, orang-orang yang dahulu menyanjung bisa saja berbalik melupakan. Dan ketika kematian datang, semua gelar, harta, dan kedudukan tidak ikut masuk ke liang lahat.

Kuburan tidak pernah bertanya, "Siapa jabatanmu?" Kuburan tidak pernah peduli berapa saldo rekeningmu. Yang menjadi teman hanyalah amal yang ikhlas.

Kesombongan adalah penyakit yang pernah membinasakan iblis. Ia tidak mengingkari keberadaan Allah, tetapi enggan taat karena merasa lebih baik daripada Adam. Kalimat "aku lebih baik" menjadi sebab terusirnya ia dari rahmat Allah.

Berhati-hatilah ketika hati mulai berkata, "Aku lebih pintar," "Aku lebih saleh," "Aku lebih sukses," atau "Aku lebih mulia." Bisa jadi, pada saat itulah kesombongan sedang tumbuh tanpa kita sadari.

Orang yang benar-benar mengenal Allah justru semakin rendah hati. Semakin tinggi ilmunya, semakin lembut lisannya. Semakin besar amanahnya, semakin takut ia kepada Rabb-nya. Ia sadar bahwa semua yang dimilikinya dapat diambil kembali kapan saja oleh Dzat yang memberikannya.

Jangan menunggu Allah meruntuhkan kesombongan kita melalui musibah. Jangan menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur. Jangan menunggu kehinaan agar memahami arti kerendahan hati.

Sebab, tidak ada yang mampu mengalahkan Allah. Tidak ada yang dapat mempertahankan kemuliaan tanpa pertolongan-Nya. Dan tidak ada hati yang akan selamat pada hari kiamat kecuali hati yang datang kepada Allah dengan penuh ketundukan.

Rendahkanlah dirimu sebelum Allah merendahkanmu. Tundukkanlah hatimu sebelum ajal menundukkan seluruh tubuhmu. Karena pada akhirnya, yang paling mulia di sisi Allah bukanlah yang paling tinggi kedudukannya di dunia, tetapi yang paling bertakwa di hadapan-Nya.

0Komentar