Kasih Sayang Bukanlah Kelemahan
Rasulullah ï·º adalah manusia yang paling mulia sekaligus sosok yang sangat penyayang kepada anak-anak. Beliau tidak hanya mengajarkan kasih sayang melalui ucapan, tetapi juga mencontohkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di antara bentuk kasih sayang yang beliau lakukan adalah mencium cucu-cucu beliau.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah ï·º pernah mencium Al-Hasan bin Ali. Saat itu, Al-Aqra' bin Habis berkata bahwa ia memiliki sepuluh anak tetapi tidak pernah mencium seorang pun dari mereka. Rasulullah ï·º kemudian bersabda,
"Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa mencium anak kecil sebagai ungkapan kasih sayang merupakan akhlak yang dianjurkan.
Mencium Anak Adalah Sunnah yang Menguatkan Ikatan Hati
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa mencium anak merupakan salah satu bentuk rahmat yang Allah tanamkan dalam hati seorang mukmin.
Imam An-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadis ini menerangkan bahwa mencium anak-anak, menyayangi mereka, dan bersikap lembut kepada mereka termasuk akhlak yang terpuji dan sunnah Rasulullah ï·º.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa mencium anak merupakan bentuk kasih sayang yang dapat mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang yang benar akan lebih mudah merasakan keamanan, kepercayaan, dan kedekatan dengan keluarganya.
Karena itu, jangan malu menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak kita.
Pelukan, ciuman, senyuman, dan kata-kata yang lembut adalah bagian dari pendidikan.
Siapa yang Boleh Mencium Anak?
Dalam Islam, hukum mencium anak bergantung pada niat, hubungan, dan cara melakukannya.
Orang tua diperbolehkan bahkan dianjurkan mencium anak-anaknya sebagai bentuk kasih sayang.
Kakek dan nenek juga boleh mencium cucunya.
Demikian pula anggota keluarga yang termasuk mahram, selama dilakukan dalam batas-batas yang wajar dan tidak menimbulkan fitnah.
Namun Islam juga mengajarkan agar setiap muslim menjaga adab dalam berinteraksi dengan anak-anak.
Apabila anak tersebut bukan mahram, maka hendaknya tetap menjaga batasan syariat, menghindari khalwat (berduaan), menghindari sentuhan yang tidak diperlukan, dan tidak melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan prasangka buruk atau membuka pintu fitnah.
Syariat datang bukan hanya untuk mengatur apa yang halal dan haram, tetapi juga untuk menjaga kehormatan semua pihak.
Islam Menutup Semua Jalan yang Mengarah kepada Keburukan
Salah satu kaidah penting dalam syariat adalah menutup jalan yang dapat mengantarkan kepada kemungkaran (saddudz dzari'ah).
Karena itu, kasih sayang kepada anak harus selalu diwujudkan dengan penuh tanggung jawab.
Jangan menjadikan alasan "sayang kepada anak" untuk melakukan sesuatu yang melampaui batas syariat atau norma kehormatan.
Orang tua juga perlu mengajarkan kepada anak sejak dini tentang batasan tubuh, adab berinteraksi, serta keberanian mengatakan tidak apabila ada perlakuan yang membuatnya tidak nyaman.
Pendidikan seperti ini bukan berarti menumbuhkan rasa curiga kepada semua orang, tetapi membangun kesadaran agar anak mampu menjaga dirinya sesuai tuntunan agama.
Mendidik dengan Kasih Sayang dan Hikmah
Sebagian orang beranggapan bahwa mendidik anak harus selalu keras agar mereka menjadi kuat.
Sebaliknya, ada pula yang memanjakan anak tanpa batas atas nama kasih sayang.
Islam mengajarkan jalan pertengahan.
Rasulullah ï·º adalah teladan dalam menggabungkan kasih sayang dengan pendidikan.
Beliau mencium anak-anak.
Beliau menggendong mereka.
Beliau mengajak mereka berbicara.
Namun pada saat yang sama, beliau juga mengajarkan adab, tauhid, shalat, kejujuran, dan tanggung jawab.
Kasih sayang yang benar bukan hanya membuat anak merasa dicintai, tetapi juga membimbingnya menjadi pribadi yang bertakwa.
Menjaga Niat dan Menjaga Adab
Setiap amal dalam Islam bergantung pada niatnya.
Kasih sayang kepada anak hendaknya dilandasi niat yang ikhlas karena Allah, bukan sekadar mengikuti kebiasaan atau mencari perhatian.
Di samping itu, setiap bentuk interaksi dengan anak harus tetap memperhatikan adab Islam, menjaga kehormatan mereka, menghormati privasi sesuai usia dan perkembangan mereka, serta menghindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan mudarat.
Dengan demikian, kasih sayang yang diberikan menjadi ibadah sekaligus sarana membangun generasi yang sehat secara emosional dan kuat secara agama.
Penutup
Islam adalah agama yang penuh rahmat.
Rasulullah ï·º mengajarkan agar umatnya menyayangi anak-anak, mengusap kepala mereka, mendoakan mereka, menggendong mereka, dan mencium mereka sebagai ungkapan kasih sayang yang tulus.
Namun Islam juga mengajarkan agar semua bentuk kasih sayang diwujudkan dalam koridor syariat, dengan menjaga kehormatan, adab, dan batasan yang telah Allah tetapkan.
Dengan mengikuti petunjuk Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah, kasih sayang kepada anak akan menjadi sebab tumbuhnya keluarga yang hangat, aman, dan penuh keberkahan.
Renungan
"Anak yang dibesarkan dengan kasih sayang yang benar akan lebih mudah mengenal kasih sayang Allah ketika dewasa."
"Kasih sayang adalah sunnah Rasulullah ï·º, sedangkan menjaga adab adalah kesempurnaan kasih sayang itu sendiri."
"Peluklah anakmu sebelum dunia mengajarkan mereka mencari pelukan di tempat yang salah. Didiklah mereka dengan cinta yang dibimbing oleh syariat."
.jpg)


0Komentar