"Ukuran kemuliaan seorang laki-laki bukanlah seberapa tinggi kedudukannya, tetapi seberapa baik ia memperlakukan wanita yang Allah amanahkan kepadanya."
Islam Datang Mengangkat Derajat Wanita
Sebelum Islam datang, wanita sering dipandang rendah. Di berbagai peradaban, mereka diperlakukan sebagai harta yang dapat diwariskan, tidak memiliki hak, bahkan bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap membawa aib.
Lalu Allah mengutus Rasulullah ï·º membawa cahaya Islam.
Islam tidak menjadikan wanita sebagai makhluk kelas dua.
Islam memuliakannya.
Sebagai anak, ia dijaga.
Sebagai saudara, ia dihormati.
Sebagai istri, ia diperlakukan dengan baik.
Sebagai ibu, ia ditempatkan pada kedudukan yang sangat tinggi.
Inilah salah satu bukti kesempurnaan syariat Islam.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa syariat Islam datang untuk menjaga lima perkara pokok, salah satunya adalah menjaga kehormatan manusia, termasuk kehormatan wanita. Karena itu, memuliakan wanita bukan sekadar akhlak yang baik, tetapi bagian dari menjalankan syariat Allah.
Ketika Wanita Menjadi Seorang Ibu
Tidak ada wanita yang lebih besar jasanya kepada seorang anak selain ibunya.
Allah Ta'ala berfirman,
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun..." (QS. Luqman: 14)
Ayat ini mengingatkan bahwa seorang ibu memikul beban yang tidak ringan.
Ia mengandung.
Melahirkan.
Menyusui.
Terjaga di malam hari.
Mendidik dengan penuh kesabaran.
Karena itu, Rasulullah ï·º ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik, beliau menjawab,
"Ibumu."
Beliau mengulanginya hingga tiga kali, kemudian baru menyebut ayah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa pengulangan tersebut menunjukkan besarnya hak seorang ibu karena beratnya pengorbanan yang ia lakukan bagi anak-anaknya.
Maka jangan pernah meninggikan suara kepada ibu.
Jangan membuatnya menangis.
Jangan membuatnya merasa sendiri di masa tuanya.
Ridha Allah sangat erat kaitannya dengan bakti kepada kedua orang tua, terutama ibu.
Ketika Wanita Menjadi Anak Perempuan
Sebagian orang masih menganggap memiliki anak laki-laki lebih membanggakan daripada anak perempuan.
Pandangan ini bertentangan dengan ajaran Islam.
Rasulullah ï·º bersabda,
"Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar dalam mengasuh mereka, memberi makan, minum, dan pakaian kepada mereka dari hartanya, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka." (HR. Ahmad)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa dua anak perempuan pun menjadi sebab seseorang memperoleh keutamaan tersebut.
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan besarnya pahala mendidik anak perempuan dengan baik. Mereka bukan beban, tetapi jalan menuju surga apabila dibesarkan dengan iman, ilmu, dan akhlak.
Maka jangan pernah merasa kecewa ketika Allah menganugerahkan anak perempuan.
Didiklah mereka.
Jagalah kehormatan mereka.
Ajarkan agama kepada mereka.
Karena bisa jadi, doa seorang anak perempuan yang salehah menjadi sebab Allah melimpahkan rahmat kepada kedua orang tuanya.
Ketika Wanita Menjadi Saudara Perempuan
Islam juga mengajarkan agar seorang laki-laki memuliakan saudara perempuannya.
Sering kali hubungan saudara hanya baik ketika masih kecil.
Setelah dewasa, masing-masing sibuk dengan kehidupannya.
Padahal saudara perempuan tetap memiliki hak untuk dihormati, dibantu, dijaga, dan disayangi.
Dalam pemahaman Ahlus Sunnah, menjaga hubungan silaturahim termasuk amal yang sangat agung.
Saudara perempuan bukan hanya bagian dari keluarga.
Ia adalah amanah yang harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang.
Bila ia mengalami kesulitan, bantulah.
Bila ia membutuhkan nasihat, dampingilah.
Jangan biarkan ia merasa sendiri hanya karena telah menikah atau tinggal berjauhan.
Memuliakan Wanita Bukan Berarti Mengikuti Budaya Barat
Sebagian orang mengira bahwa memuliakan wanita berarti memberikan kebebasan tanpa batas.
Padahal Islam memiliki konsep yang sangat berbeda.
Islam memuliakan wanita dengan menjaga kehormatannya.
Menutup auratnya.
Melindungi hak-haknya.
Memberikan hak memperoleh ilmu.
Hak memiliki harta.
Hak mendapatkan nafkah.
Hak mendapatkan perlakuan yang baik.
Namun pada saat yang sama, Islam juga menjaga mereka dari perkara yang merusak kehormatan dan agamanya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa seluruh syariat Allah dibangun di atas maslahat bagi manusia. Termasuk aturan-aturan yang berkaitan dengan wanita, semuanya bertujuan menjaga agama, kehormatan, dan kemuliaannya.
Karena itu, kemuliaan wanita dalam Islam bukan karena ia bebas melakukan apa saja, tetapi karena ia dijaga sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Cara Memuliakan Wanita dalam Kehidupan Sehari-hari
Memuliakan wanita tidak cukup dengan ucapan.
Ia harus tampak dalam sikap.
Di antaranya:
Pertama, berbicara dengan lembut dan penuh penghormatan.
Lisan yang kasar sering kali lebih melukai daripada pukulan.
Kedua, memenuhi hak-haknya.
Baik sebagai ibu, anak, istri, maupun saudara.
Hak nafkah, pendidikan, perhatian, dan kasih sayang harus diberikan sesuai tuntunan syariat.
Ketiga, menjaga kehormatan mereka.
Tidak membuka aibnya.
Tidak merendahkannya di hadapan orang lain.
Tidak menjadikannya bahan candaan.
Keempat, mendidik mereka dengan agama.
Pendidikan terbaik bukan sekadar pendidikan dunia.
Ajarkan Al-Qur'an.
Ajarkan shalat.
Ajarkan akhlak.
Karena wanita salehah akan menjadi penyejuk hati keluarga dan pendidik generasi berikutnya.
Kelima, mendoakan mereka.
Doa adalah bentuk kasih sayang yang sering terlupakan.
Doakan ibu agar Allah memanjangkan umurnya dalam ketaatan.
Doakan anak perempuan agar menjadi wanita salehah.
Doakan saudara perempuan agar Allah menjaga kehormatannya.
Kemuliaan Wanita Akan Kembali kepada Laki-Laki yang Memuliakannya
Rasulullah ï·º bersabda,
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku." (HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini menjadi ukuran kemuliaan seorang laki-laki.
Bukan seberapa tinggi jabatannya.
Bukan seberapa banyak hartanya.
Tetapi bagaimana akhlaknya terhadap wanita-wanita yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Seorang laki-laki mungkin dihormati masyarakat.
Namun jika ibunya sering menangis karenanya, jika anak perempuannya kehilangan kasih sayangnya, atau jika saudara perempuannya merasa diabaikan, maka masih ada amanah besar yang harus ia perbaiki.
Penutup
Memuliakan wanita bukanlah budaya.
Bukan pula sekadar tradisi.
Ia adalah bagian dari keimanan dan ketaatan kepada Allah.
Muliakan ibumu, karena surga berada di bawah baktimu kepadanya.
Muliakan anak perempuanmu, karena mereka dapat menjadi jalan menuju surga.
Muliakan saudara perempuanmu, karena menjaga silaturahim adalah amal yang dicintai Allah.
Jangan pernah menganggap kelembutan sebagai kelemahan.
Karena di balik kelembutan seorang wanita, Allah menitipkan peran besar dalam membangun peradaban.
Rumah yang baik lahir dari ibu yang salehah.
Generasi yang kuat lahir dari pendidikan seorang wanita yang bertakwa.
Dan masyarakat yang mulia lahir dari laki-laki yang memahami bagaimana memuliakan wanita sesuai tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah.
Wasiat Mutiara
"Kemuliaan seorang laki-laki tidak tampak ketika ia berdiri di hadapan banyak orang, tetapi ketika ia memperlakukan ibu, anak perempuan, dan saudara perempuannya dengan penuh kasih sayang dan penghormatan."
"Wanita bukanlah beban yang harus ditanggung, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Siapa yang menjaganya karena Allah, Allah akan menjaga dan memuliakan kehidupannya."
"Jangan mencari kemuliaan dengan merendahkan wanita. Karena Islam mengajarkan bahwa memuliakan wanita sesuai syariat adalah jalan menuju kemuliaan di dunia dan akhirat."
"Rumah yang paling kokoh bukan dibangun dengan batu yang mahal, tetapi dengan seorang ibu yang dimuliakan, anak perempuan yang dididik dengan iman, dan saudara perempuan yang dijaga kehormatannya."
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu memuliakan setiap wanita sesuai kedudukannya dalam syariat; berbakti kepada ibu, mendidik anak perempuan dengan penuh kasih dan ilmu, menjaga saudara perempuan dengan kehormatan, serta meneladani akhlak Rasulullah ï·º dalam memperlakukan wanita. Aamiin.
.jpg)


0Komentar