"Tidak semua orang dikenang karena hartanya. Tidak semua orang dihormati karena jabatannya. Namun orang yang baik akan selalu hidup di hati manusia, dan semoga hidup dalam rahmat Allah."
Menjadi Orang Baik Itu Indah, Meski Tidak Selalu Mudah
Di zaman ketika ukuran keberhasilan sering diukur dari banyaknya harta, jumlah pengikut di media sosial, atau tingginya jabatan, ada satu cita-cita yang justru mulai jarang dibicarakan: ingin menjadi orang baik.
Padahal, menjadi orang baik adalah cita-cita yang sangat mulia. Tidak membutuhkan kekayaan yang melimpah, tidak membutuhkan ketenaran, bahkan tidak membutuhkan pengakuan manusia. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang ikhlas dan keinginan untuk terus memperbaiki diri di hadapan Allah.
Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah di atas manhaj Salaf selalu mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak berlomba menjadi orang yang paling terkenal, tetapi berlomba menjadi orang yang paling dicintai Allah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menjelaskan bahwa kebahagiaan seorang hamba terletak pada kesempurnaan ubudiyah kepada Allah. Semakin seorang hamba tunduk kepada Rabb-nya, semakin baik pula akhlaknya kepada manusia.
Karena itu, target terbesar seorang muslim bukanlah menjadi orang yang dipuji manusia, melainkan menjadi hamba yang diridhai Allah.
Orang Baik Selalu Memulai dari Hatinya
Banyak orang ingin terlihat baik, tetapi sedikit yang benar-benar ingin memperbaiki hati.
Padahal Rasulullah ï·º bersabda:
"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama Salaf sangat memperhatikan amalan hati sebelum amalan anggota badan.
Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa hati ibarat raja, sedangkan anggota badan hanyalah tentaranya. Jika rajanya baik, maka seluruh pasukan akan mengikuti dalam kebaikan.
Karena itu, orang baik bukan sekadar yang lisannya lembut, tetapi yang hatinya bersih dari iri, dengki, riya, dan kesombongan.
Jangan Sibuk Menjadi Hebat, Sibuklah Menjadi Baik
Ada manusia yang menghabiskan hidupnya agar dikenal banyak orang.
Namun para ulama Salaf justru mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Sufyan al-Tsauri berkata,
"Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih berat untuk kuobati daripada niatku."
Perkataan ini menunjukkan bahwa orang-orang saleh dahulu lebih sibuk memperbaiki diri daripada mencari penghargaan manusia.
Mereka takut amalnya rusak karena ingin dipuji.
Hari ini kita sering bertanya,
"Apa kata orang?"
Padahal seharusnya kita lebih sering bertanya,
"Bagaimana pandangan Allah terhadapku?"
Orang Baik Tidak Harus Selalu Menang
Kadang kita merasa kecewa ketika diperlakukan tidak adil.
Sudah membantu, malah dicela.
Sudah berbuat baik, malah difitnah.
Sudah jujur, malah dimanfaatkan.
Namun inilah pelajaran besar yang diajarkan para ulama Ahlus Sunnah.
Kebaikan bukan dilakukan karena manusia pantas menerimanya.
Kebaikan dilakukan karena Allah mencintainya.
Abdul Aziz bin Baz sering mengingatkan agar seorang muslim tetap berbuat ihsan sekalipun orang lain tidak membalasnya.
Karena balasan terbaik bukan berasal dari manusia.
Tetapi berasal dari Allah.
Jangan Meremehkan Kebaikan yang Kecil
Sering kali kita berpikir bahwa kebaikan harus besar.
Padahal Rasulullah ï·º mengajarkan sebaliknya.
Senyum adalah sedekah.
Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.
Mengucapkan salam adalah sedekah.
Mendoakan saudara adalah sedekah.
Memberi makan keluarga adalah sedekah.
Para ulama Salaf memahami bahwa amal kecil yang dilakukan terus-menerus jauh lebih dicintai Allah daripada amal besar yang hanya sesekali dilakukan.
Maka jangan pernah berkata,
"Ah, cuma membantu sedikit."
Bisa jadi "sedikit" menurut kita justru sangat besar di sisi Allah.
Menjadi Orang Baik Berarti Siap Memaafkan
Salah satu ciri hati yang baik adalah mudah memaafkan.
Bukan karena kesalahan orang lain kecil.
Tetapi karena ia berharap Allah juga memaafkan dirinya.
Muhammad bin Salih al-Utsaimin menjelaskan bahwa memaafkan termasuk akhlak mulia selama tidak menyebabkan kerusakan yang lebih besar.
Memaafkan bukan kelemahan.
Justru menunjukkan kekuatan hati.
Orang yang mampu mengalahkan emosinya lebih kuat daripada orang yang mampu mengalahkan banyak musuh.
Jangan Menunggu Sempurna Baru Berbuat Baik
Banyak orang berkata,
"Nanti kalau sudah hijrah."
"Nanti kalau sudah mapan."
"Nanti kalau sudah tua."
Padahal kematian tidak pernah menunggu kesiapan kita.
Para ulama Salaf selalu mengajarkan agar seorang muslim segera memperbanyak amal sebelum kesempatan itu hilang.
Hari ini mungkin kita masih sehat.
Besok belum tentu.
Hari ini kita masih mampu bersedekah.
Besok mungkin kita sendiri membutuhkan bantuan.
Hari ini kita masih bisa meminta maaf.
Besok mungkin orang yang ingin kita temui sudah dipanggil Allah.
Maka jangan menunda menjadi orang baik.
Mulailah hari ini.
Orang Baik Tidak Sibuk Menghakimi
Fenomena yang sering muncul adalah mudahnya seseorang menilai keburukan orang lain.
Padahal dirinya sendiri masih penuh kekurangan.
Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan bahwa seorang muslim hendaknya menyibukkan dirinya dengan memperbaiki kekurangan pribadi sebelum sibuk membicarakan aib saudaranya.
Ini bukan berarti kita meninggalkan amar makruf nahi mungkar.
Namun kita melakukannya dengan ilmu, adab, kelembutan, dan niat yang ikhlas.
Orang baik bukan orang yang merasa paling suci.
Orang baik adalah orang yang sadar bahwa dirinya juga membutuhkan ampunan Allah setiap hari.
Kebaikan Terbesar Adalah Mengajak kepada Jalan Allah
Puncak kebaikan bukan hanya berbuat baik kepada manusia.
Tetapi juga membantu manusia mengenal Rabb mereka.
Mengajarkan Al-Qur'an.
Mengajarkan tauhid.
Mengajarkan salat.
Mengingatkan dengan hikmah.
Mendoakan saudara.
Semua ini termasuk amal yang pahalanya terus mengalir.
Sebagaimana sabda Rasulullah ï·º,
"Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya."
Betapa indahnya jika hidup kita menjadi sebab seseorang semakin dekat kepada Allah.
Penutup: Jadilah Orang Baik, Meski Tidak Ada yang Melihat
Pada akhirnya, kehidupan ini bukan perlombaan mencari tepuk tangan manusia.
Yang kita cari adalah keridhaan Allah.
Jika suatu hari kebaikanmu tidak dihargai, jangan berhenti berbuat baik.
Jika keikhlasanmu tidak dipahami, jangan berhenti ikhlas.
Jika pengorbananmu dilupakan manusia, yakinlah Allah tidak pernah melupakannya.
Para ulama Ahlus Sunnah selalu mengingatkan bahwa amal yang paling bernilai adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Rasulullah ï·º. Dua syarat inilah yang menjadi fondasi diterimanya setiap amal.
Mungkin kita tidak akan menjadi orang terkaya.
Mungkin kita tidak akan menjadi orang paling terkenal.
Mungkin nama kita tidak pernah ditulis dalam sejarah.
Namun alangkah indahnya apabila pada hari ketika seluruh manusia dikumpulkan di hadapan Allah, nama kita tercatat sebagai hamba yang berusaha menjadi orang baik.
Karena sesungguhnya dunia hanyalah tempat singgah. Yang kekal bukan pujian manusia, melainkan rahmat Allah.
Semoga Allah menjadikan hati kita lembut, lisan kita jujur, amal kita ikhlas, dan langkah kita selalu berada di atas jalan Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut pemahaman para sahabat Nabi ï·º. Semoga kita diwafatkan dalam keadaan istiqamah di atas tauhid dan termasuk golongan orang-orang saleh yang mendapatkan rahmat-Nya.
اللهم اجعلنا من عبادك الصالØÙŠÙ†، ÙˆØ£ØµÙ„Ø Ù‚Ù„ÙˆØ¨Ù†Ø§ وأعمالنا، وثبتنا على الØÙ‚ ØØªÙ‰ نلقاك. آمين.
.jpg)


0Komentar