TUM6Tpd6GfAoGprpTSMiBSYiGd==

Cari Blog Ini

Light Dark
Bulan Suro: Antara Mitos dan Sunnah, Saatnya Kembali kepada Tuntunan Rasulullah ﷺ

Bulan Suro: Antara Mitos dan Sunnah, Saatnya Kembali kepada Tuntunan Rasulullah ﷺ

Daftar Isi
×


 






"Bukan bulannya yang membawa sial atau keberuntungan. Yang membawa keberkahan adalah ketaatan kepada Allah, dan yang mendatangkan musibah adalah dosa-dosa manusia."


Mengapa Bulan Suro Selalu Menjadi Perbincangan?

Setiap memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada berbagai tradisi dan keyakinan. Ada yang menganggap bulan ini keramat. Ada yang tidak berani menikah, pindah rumah, memulai usaha, atau mengadakan hajatan karena khawatir akan tertimpa kesialan.

Di beberapa daerah, masyarakat mengadakan ritual tertentu seperti tirakatan, larung sesaji, mencuci pusaka, hingga berbagai bentuk selamatan yang diyakini dapat menolak bala atau mendatangkan keselamatan.

Sebagai seorang muslim, tentu muncul pertanyaan: apakah semua keyakinan tersebut memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah?

Ahlus Sunnah wal Jamaah mengajarkan bahwa seorang muslim wajib mengembalikan seluruh keyakinan dan amal ibadah kepada dalil yang sahih, bukan kepada adat atau cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Suro Adalah Muharram

Yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah bahwa bulan Suro dalam kalender Jawa bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah.

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram (bulan yang dimuliakan) sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan." (QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Artinya, Muharram memang memiliki kemuliaan. Akan tetapi, kemuliaannya berasal dari ketetapan Allah, bukan karena adanya kekuatan gaib atau kesialan yang melekat pada bulan tersebut.

Tidak Ada Bulan yang Membawa Sial

Salah satu prinsip penting dalam akidah Ahlus Sunnah adalah bahwa tidak ada waktu yang secara zat membawa sial atau keberuntungan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak ada thiyarah (anggapan sial)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi landasan bahwa mengaitkan kesialan dengan waktu, tempat, benda, atau angka tertentu termasuk keyakinan yang tidak dibenarkan.

Muhammad bin Salih al-Utsaimin menjelaskan bahwa seseorang yang meyakini suatu bulan membawa sial berarti telah menggantungkan hatinya kepada sesuatu yang tidak Allah jadikan sebagai sebab.

Begitu pula Abdul Aziz bin Baz menegaskan bahwa semua bulan adalah ciptaan Allah. Tidak ada bulan yang boleh diyakini sebagai pembawa malapetaka.

Karena itu, anggapan seperti:

  • jangan menikah pada bulan Suro,

  • jangan membangun rumah,

  • jangan pindah tempat tinggal,

  • jangan membuka usaha,

tidak memiliki dasar dalam syariat Islam.

Tradisi Boleh, Aqidah Harus Dijaga

Islam tidak datang untuk menghapus seluruh budaya.

Namun Islam datang untuk meluruskan keyakinan.

Jika suatu tradisi hanya bersifat budaya, tidak mengandung unsur syirik, tidak bertentangan dengan syariat, dan tidak diyakini sebagai ibadah khusus, maka para ulama menjelaskan bahwa hukum asal adat adalah boleh.

Sebaliknya, apabila suatu ritual disertai keyakinan bahwa sesaji dapat menolak bala, benda pusaka memiliki kekuatan gaib, atau roh tertentu memberikan perlindungan, maka keyakinan tersebut bertentangan dengan tauhid.

Shalih bin Fauzan al-Fauzan mengingatkan bahwa seorang muslim harus memurnikan ibadah hanya kepada Allah dan tidak menggantungkan harapan maupun rasa takut kepada selain-Nya.

Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Muharram

Daripada sibuk memikirkan mitos, Rasulullah ﷺ justru mengajarkan amalan-amalan yang jelas keutamaannya.

1. Memperbanyak Puasa Sunnah

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa Muharram merupakan waktu yang sangat baik untuk memperbanyak puasa sunnah.

2. Berpuasa pada Hari Asyura

Tanggal 10 Muharram dikenal sebagai hari Asyura.

Pada hari tersebut Rasulullah ﷺ berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah atas diselamatkannya Nabi Musa 'alaihis salam dan kaumnya dari Fir'aun.

Beliau juga menganjurkan agar kaum muslimin berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, atau 10 dan 11 Muharram, agar berbeda dengan kaum Yahudi.

3. Memperbanyak Taubat

Muharram adalah awal tahun Hijriah.

Awal tahun bukan sekadar pergantian kalender.

Ia adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.

Mungkin selama setahun terakhir kita masih sering lalai dalam salat, kurang membaca Al-Qur'an, atau masih mudah terjatuh dalam dosa. Awal Muharram menjadi momentum yang baik untuk membuka lembaran baru dengan taubat yang sungguh-sungguh.

4. Memperbanyak Amal Saleh

Setiap amal saleh memiliki nilai yang besar, terlebih ketika dilakukan pada waktu yang dimuliakan.

Memperbanyak sedekah, membantu sesama, menyambung silaturahmi, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan menghadiri majelis ilmu merupakan amalan yang jauh lebih bermanfaat daripada sibuk mencari hari yang dianggap "paling baik" menurut kepercayaan masyarakat.

Jangan Takut kepada Bulan, Takutlah kepada Dosa

Banyak orang takut kepada bulan Suro.

Padahal yang seharusnya lebih ditakuti adalah dosa.

Musibah tidak datang karena nama suatu bulan.

Allah Ta'ala berfirman:

"Apa saja musibah yang menimpamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri..." (QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini mengajarkan bahwa sebab utama datangnya musibah adalah dosa dan maksiat, bukan karena memasuki bulan tertentu.

Jika kita ingin hidup penuh keberkahan, maka jalan keluarnya bukan menghindari bulan Suro, melainkan memperbanyak istighfar, memperbaiki salat, menjauhi kemaksiatan, dan memperkuat tauhid.

Jadikan Muharram Sebagai Awal Perubahan

Bayangkan jika setiap awal Muharram kita membuat tekad:

  • salat berjamaah lebih terjaga,

  • membaca Al-Qur'an setiap hari,

  • meninggalkan ghibah,

  • memperbanyak sedekah,

  • lebih berbakti kepada orang tua,

  • memperbaiki akhlak kepada pasangan dan anak-anak.

Bukankah itu jauh lebih bermanfaat daripada sibuk mempercayai mitos yang tidak memiliki landasan syariat?

Muharram bukan bulan kesialan.

Muharram adalah bulan kemuliaan.

Yang menentukan nasib seorang hamba bukanlah kalender yang ia masuki, melainkan bagaimana ia mengisi hari-harinya dengan ketaatan kepada Allah.

Penutup

Bulan Suro atau Muharram hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat tauhid, bukan mempertebal mitos. Seorang muslim yang mengikuti manhaj Ahlus Sunnah menerima apa yang ditetapkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta meninggalkan keyakinan yang tidak memiliki dalil.

Mari kita sambut Muharram dengan memperbanyak ibadah, memperbarui taubat, mempererat ukhuwah, dan memohon kepada Allah agar diberikan keberkahan sepanjang tahun.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang memuliakan apa yang dimuliakan-Nya, tanpa melampaui batas dengan keyakinan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Semoga Dia menjaga kita dari syirik, khurafat, dan takhayul, serta meneguhkan kita di atas jalan tauhid hingga akhir hayat.

اللهم بارك لنا في محرم، وأعنا فيه على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك، وثبتنا على السنة حتى نلقاك. آمين.

0Komentar