TUM6Tpd6GfAoGprpTSMiBSYiGd==

Cari Blog Ini

Light Dark
Di Balik Kaya dan Miskin, Sehat dan Sakit: Semua Ketetapan Allah Selalu yang Terbaik untuk Hamba-Nya

Di Balik Kaya dan Miskin, Sehat dan Sakit: Semua Ketetapan Allah Selalu yang Terbaik untuk Hamba-Nya

Daftar Isi
×

 








"Boleh jadi engkau menangis karena kehilangan sesuatu, padahal Allah sedang menyelamatkanmu dari sesuatu yang lebih buruk. Dan boleh jadi engkau bergembira karena mendapatkan sesuatu, padahal di situlah ujian yang sesungguhnya dimulai."

Hampir setiap manusia memiliki ukuran sendiri tentang kebahagiaan. Sebagian menganggap hidup akan sempurna jika memiliki harta yang melimpah. Sebagian lagi berpikir bahwa kesehatan adalah nikmat terbesar sehingga selama tubuh masih kuat, semua urusan akan mudah. Ada pula yang merasa bahwa kemiskinan adalah musibah terbesar, sedangkan penyakit adalah bukti bahwa Allah tidak lagi mencintainya.

Padahal, pandangan seperti itu tidak selalu benar.

Dalam Islam, ukuran kemuliaan bukanlah banyaknya harta, bukan pula kuatnya fisik. Allah Subhanahu wa Ta'ala memandang hati, ketakwaan, kesabaran, dan ketaatan seorang hamba. Karena itu, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, semuanya adalah ujian yang diberikan Allah sesuai hikmah-Nya.

Allah Lebih Mengetahui Apa yang Terbaik

Allah Ta'ala berfirman,

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa keterbatasan manusia sering kali membuatnya menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak di depan mata. Kita mengira kekayaan pasti membawa kebahagiaan, padahal banyak orang kaya yang hidup dalam kegelisahan. Kita mengira kemiskinan adalah kehinaan, padahal tidak sedikit orang miskin yang memiliki hati paling tenang dan paling dekat dengan Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini mengandung kaidah agung: seorang mukmin hendaknya menyerahkan urusan kepada Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu, sedangkan ilmu manusia sangat terbatas.

Kaya Adalah Amanah, Bukan Tanda Kemuliaan

Ketika Allah melapangkan rezeki seseorang, jangan langsung menganggap bahwa itu tanda Allah lebih mencintainya.

Allah berfirman,

"Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, 'Rabbku telah memuliakanku.' Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, 'Rabbku menghinakanku.' Sekali-kali tidak!" (QS. Al-Fajr: 15–17)

Ayat ini membantah anggapan bahwa kekayaan adalah ukuran kemuliaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa Allah memberikan harta kepada orang yang Dia cintai maupun kepada orang yang tidak Dia cintai. Harta hanyalah sarana ujian. Siapa yang bersyukur dan menggunakannya di jalan Allah, maka harta menjadi sebab keselamatan. Namun siapa yang sombong dan lalai, justru hartanya menjadi sebab kebinasaan.

Karena itu, orang kaya bukan hanya diuji tentang bagaimana memperoleh hartanya, tetapi juga bagaimana membelanjakannya, apakah hartanya mendekatkannya kepada surga atau justru menyeretnya ke neraka.

Kemiskinan Juga Jalan Menuju Surga

Tidak sedikit orang yang merasa minder karena hidup sederhana.

Padahal, kemiskinan bukanlah aib. Yang tercela adalah kemiskinan iman.

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa seorang mukmin yang miskin tetapi sabar memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Bahkan kesabaran dalam menghadapi keterbatasan merupakan ibadah yang sangat besar pahalanya.

Kemiskinan mengajarkan seseorang untuk bergantung kepada Allah, memperbanyak doa, bersabar, dan merasakan nikmat yang sering dilupakan oleh orang yang hidup berkecukupan.

Banyak para nabi, sahabat, dan ulama yang hidup sederhana, namun nama mereka harum hingga hari kiamat.

Sehat Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah ï·º bersabda,

"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Al-Bukhari)

Saat tubuh sehat, seseorang mampu beribadah dengan mudah. Ia dapat bekerja, bersedekah, menolong sesama, menghadiri majelis ilmu, dan melakukan banyak amal saleh.

Namun justru ketika sehat, banyak manusia lalai.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah sering mengingatkan bahwa kesehatan adalah kesempatan untuk memperbanyak amal sebelum datang masa ketika seseorang tidak lagi mampu melakukannya.

Sehat bukan sekadar nikmat, tetapi juga amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Sakit Bukan Berarti Allah Murka

Sebaliknya, ketika sakit datang, jangan buru-buru berprasangka buruk kepada Allah.

Rasulullah ï·º bersabda bahwa tidaklah seorang mukmin tertimpa rasa lelah, sakit, sedih, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa penyakit bagi seorang mukmin dapat menjadi penghapus dosa, pengangkat derajat, sekaligus pengingat agar kembali kepada Allah.

Banyak orang justru menemukan ketenangan hati ketika terbaring sakit. Saat itulah ia lebih banyak berdoa, menangis dalam sujud, membaca Al-Qur'an, dan menyadari betapa lemahnya dirinya.

Betapa banyak orang yang menjadi lebih dekat dengan Allah justru setelah Allah mengujinya dengan penyakit.

Ujian Setiap Orang Berbeda

Allah tidak pernah memberikan ujian yang sama kepada seluruh manusia.

Ada yang diuji dengan jabatan.

Ada yang diuji dengan keluarga.

Ada yang diuji dengan anak.

Ada yang diuji dengan kesendirian.

Ada yang diuji dengan kekayaan.

Ada pula yang diuji dengan kemiskinan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa hakikat kebahagiaan bukan terletak pada berubahnya keadaan dunia, melainkan pada ketenangan hati dalam beribadah kepada Allah.

Karena itu, jangan sibuk membandingkan hidup kita dengan orang lain.

Yang perlu kita tanyakan bukanlah, "Mengapa aku mendapat ujian ini?" tetapi, "Bagaimana aku menghadapi ujian ini agar Allah ridha kepadaku?"

Ridha kepada Takdir Adalah Kunci Ketenangan

Ridha bukan berarti tidak boleh bersedih.

Ridha adalah menerima bahwa seluruh keputusan Allah mengandung hikmah, meskipun kita belum memahaminya sekarang.

Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah menjelaskan bahwa seorang mukmin akan memperoleh ketenangan ketika meyakini bahwa semua takdir Allah dibangun di atas ilmu, hikmah, rahmat, dan keadilan-Nya.

Tidak ada satu pun keputusan Allah yang sia-sia.

Tidak ada satu pun musibah yang luput dari hikmah.

Tidak ada satu pun nikmat yang diberikan tanpa tujuan.

Ketika keyakinan ini tumbuh dalam hati, maka seseorang tidak akan mudah putus asa saat miskin, tidak sombong saat kaya, tidak lalai saat sehat, dan tidak berburuk sangka saat sakit.

Penutup

Hidup bukan tentang memiliki semua yang kita inginkan.

Hidup adalah tentang bagaimana kita menjalani semua yang Allah tetapkan dengan penuh keimanan.

Jika hari ini Allah memberimu kekayaan, bersyukurlah.

Jika Allah memberimu kesederhanaan, bersabarlah.

Jika Allah memberimu kesehatan, manfaatkanlah untuk beribadah.

Jika Allah mengujimu dengan sakit, bersabarlah dan berharaplah pahala dari-Nya.

Karena pada akhirnya, yang menentukan kebahagiaan bukanlah banyaknya nikmat dunia, melainkan bagaimana kita menghadapinya hingga Allah memanggil kita dalam keadaan ridha dan diridhai.

Wasiat Mutiara

"Jangan ukur kasih sayang Allah dari banyaknya harta di tanganmu atau sehatnya tubuhmu. Ukurlah dari seberapa dekat hatimu kepada-Nya. Sebab terkadang Allah menahan dunia agar engkau memperoleh surga, dan terkadang Allah memberi dunia agar terlihat apakah engkau bersyukur atau justru lalai."

"Apa pun yang Allah pilihkan untukmu, yakinlah bahwa itu adalah pilihan terbaik. Tugasmu bukan mengubah takdir, tetapi menghadapinya dengan iman, sabar, syukur, dan tawakal."

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diuji, ridha terhadap setiap ketetapan-Nya, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

0Komentar