TUM6Tpd6GfAoGprpTSMiBSYiGd==

Cari Blog Ini

Light Dark
Hidup Ini Hanya Singgah, Akhiratlah Tempat Tinggal Selamanya: Jangan Tukarkan Keabadian dengan Kesenangan yang Hanya Puluhan Tahun

Hidup Ini Hanya Singgah, Akhiratlah Tempat Tinggal Selamanya: Jangan Tukarkan Keabadian dengan Kesenangan yang Hanya Puluhan Tahun

Daftar Isi
×









"Dunia hanya memberi kita jatah hidup beberapa puluh tahun. Namun akhirat adalah kehidupan yang tidak pernah berakhir. Betapa ruginya jika kita mengorbankan kehidupan yang abadi demi kenikmatan yang sementara."

Dunia yang Kita Kejar Ternyata Sangat Singkat

Sejak kecil, kita diajarkan untuk mengejar cita-cita.

Belajar dengan sungguh-sungguh.

Mencari pekerjaan terbaik.

Mengumpulkan harta.

Membangun rumah.

Membesarkan keluarga.

Semua itu memang bagian dari kehidupan yang diperbolehkan dalam Islam.

Namun ada satu kenyataan yang sering terlupakan.

Berapa lama sebenarnya kita akan tinggal di dunia ini?

Jika seseorang hidup hingga usia 60 tahun, berarti ia hanya menjalani sekitar 21.900 hari.

Jika Allah memberi umur 70 tahun, jumlahnya sekitar 25.550 hari.

Bahkan jika seseorang diberi umur 90 tahun, tetap saja itu hanyalah sekejap dibandingkan kehidupan akhirat yang tidak memiliki batas.

Yang lebih menggetarkan, tidak ada seorang pun yang dijamin akan mencapai usia tersebut.

Ada yang dipanggil Allah saat masih bayi.

Ada yang wafat ketika remaja.

Ada yang meninggal di usia produktif.

Ada pula yang baru saja membuat rencana besar, namun ajal datang lebih dahulu.

Allah Ta'ala berfirman,

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian." (QS. Ali 'Imran: 185)

Ayat ini tidak mengatakan mungkin akan mati.

Tetapi pasti akan mati.

Dunia Bukan Rumah, Melainkan Tempat Persinggahan

Rasulullah ï·º pernah bersabda,

"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir." (HR. Al-Bukhari)

Seorang musafir tidak akan membangun rumah mewah di tempat persinggahannya.

Ia tidak akan menghabiskan seluruh hartanya untuk menghias tempat yang hanya akan ia tinggalkan.

Fokusnya adalah tujuan akhir perjalanan.

Begitulah seorang mukmin memandang dunia.

Ia bekerja.

Ia mencari rezeki.

Ia membangun keluarga.

Ia berkarya.

Namun semua itu dilakukan sebagai bekal menuju kehidupan yang sebenarnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dunia hanyalah jalan menuju akhirat. Orang yang cerdas adalah yang memanfaatkan dunia sebagai sarana untuk memperoleh keridaan Allah, bukan menjadikannya tujuan hidup.

Mengapa Kita Terlalu Sibuk dengan Dunia?

Ironisnya, banyak manusia lebih sibuk mempersiapkan hidup selama puluhan tahun daripada mempersiapkan kehidupan yang tidak akan pernah berakhir.

Kita rela menghabiskan bertahun-tahun untuk mengejar karier.

Tetapi sering menunda belajar agama.

Kita begitu khawatir kehilangan uang.

Namun tidak terlalu khawatir kehilangan pahala.

Kita takut rumah rusak.

Tetapi tidak takut jika hati mulai jauh dari Allah.

Padahal dunia yang kita pertahankan ini suatu hari pasti akan kita tinggalkan.

Rumah akan menjadi milik orang lain.

Kendaraan akan dipakai orang lain.

Jabatan akan digantikan orang lain.

Rekening akan diwariskan.

Yang ikut bersama kita hanyalah amal.

Semua yang Kita Banggakan Akan Berakhir

Lihatlah sejarah.

Berapa banyak raja yang pernah menguasai negeri-negeri besar?

Hari ini mereka telah berada di dalam kubur.

Berapa banyak orang kaya yang hartanya tidak terhitung?

Hari ini mereka tidak membawa satu keping pun.

Berapa banyak tokoh terkenal yang dahulu dipuja manusia?

Hari ini nama mereka mulai dilupakan.

Allah Ta'ala berfirman,

"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam harta serta anak..." (QS. Al-Hadid: 20)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan betapa cepat dunia berlalu. Keindahannya hanya sementara, kemudian semuanya lenyap seperti tanaman yang menguning lalu hancur.

Akhirat Adalah Kehidupan yang Sebenarnya

Allah berfirman,

"Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui." (QS. Al-'Ankabut: 64)

Perhatikan ayat ini.

Allah tidak mengatakan bahwa akhirat lebih lama.

Allah mengatakan bahwa akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya.

Di sana tidak ada kematian lagi.

Tidak ada pergantian usia.

Tidak ada batas waktu.

Jika seseorang menjadi penghuni surga, maka kenikmatannya tidak akan pernah habis.

Tidak ada sakit.

Tidak ada sedih.

Tidak ada kehilangan.

Tidak ada perpisahan.

Sebaliknya, jika seseorang menjadi penghuni neraka, maka azabnya pun tidak mengenal akhir.

Karena itu, keputusan yang kita ambil selama beberapa puluh tahun di dunia akan menentukan keadaan kita selama-lamanya.

Jangan Menukar Keabadian dengan Kenikmatan Sesaat

Setan selalu membuat dosa tampak kecil.

"Hanya sekali."

"Semua orang juga melakukannya."

"Nikmati saja hidupmu."

Padahal setiap maksiat yang dilakukan demi kenikmatan beberapa menit dapat berakibat sangat panjang apabila tidak disertai taubat.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah sering mengingatkan bahwa dunia adalah ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasilnya.

Hari ini kita masih bisa bertaubat.

Masih bisa memperbaiki diri.

Masih bisa memperbanyak amal saleh.

Namun ketika kematian datang, pintu amal tertutup.

Yang tersisa hanyalah penyesalan bagi mereka yang lalai.

Bekal Terbaik Menuju Keabadian

Jika akhirat adalah tujuan, lalu apa bekal terbaiknya?

Bekal itu bukan banyaknya harta.

Bukan tingginya jabatan.

Bukan panjangnya gelar.

Bekal terbaik adalah:

  • Tauhid yang murni.

  • Shalat yang dijaga.

  • Al-Qur'an yang dibaca dan diamalkan.

  • Sedekah yang ikhlas.

  • Akhlak yang baik.

  • Bakti kepada orang tua.

  • Pendidikan anak-anak dalam agama.

  • Ilmu yang bermanfaat.

  • Taubat yang terus diperbarui.

Semua amal itu mungkin tampak kecil di dunia.

Namun di akhirat nilainya sangat besar.

Renungkan Sebelum Terlambat

Bayangkan jika hari ini adalah hari terakhir kita.

Apakah yang paling kita sesali?

Apakah kurangnya harta?

Ataukah kurangnya amal?

Apakah kita menyesal karena rumah belum lebih besar?

Ataukah karena Al-Qur'an masih jarang dibaca?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan untuk menakut-nakuti.

Tetapi agar kita menata kembali arah hidup sebelum kesempatan itu benar-benar habis.

Penutup

Dunia ini bukan tujuan akhir.

Ia hanyalah jembatan.

Tempat singgah.

Tempat menanam.

Tempat mengumpulkan bekal.

Jangan habiskan seluruh tenaga hanya untuk memperindah tempat persinggahan.

Bangunlah kehidupan duniamu secukupnya.

Namun bangunlah kehidupan akhiratmu dengan sungguh-sungguh.

Karena ketika mata terpejam untuk terakhir kalinya, seluruh urusan dunia selesai.

Tidak ada lagi kesempatan memperbaiki shalat.

Tidak ada lagi kesempatan bersedekah.

Tidak ada lagi kesempatan meminta maaf.

Yang tersisa hanyalah hasil dari apa yang pernah kita lakukan.

Maka selama napas masih Allah titipkan, selama pintu taubat masih terbuka, selama matahari masih terbit dari timur, marilah kita memperbanyak amal saleh.

Sebab beberapa puluh tahun di dunia akan menentukan kehidupan yang tidak akan pernah berakhir.

Renungan Kehidupan

"Jangan habiskan seluruh hidupmu untuk dunia yang akan kau tinggalkan. Habiskan hidupmu untuk akhirat yang akan menjadi tempat tinggalmu selama-lamanya."

"Dunia hanya memberikan usia yang terbatas. Tetapi satu amal yang ikhlas dapat menjadi sebab kebahagiaan yang tidak pernah berakhir di surga Allah."

"Setiap pagi adalah pengurangan jatah hidup, bukan penambahan. Yang bertambah hanyalah kesempatan untuk menyiapkan bekal menuju keabadian."

"Orang yang paling cerdas bukanlah yang paling banyak mengumpulkan dunia, tetapi yang paling banyak membawa bekal ketika meninggalkan dunia."

"Hari ini kita berjalan di atas bumi. Esok kita berada di bawahnya. Setelah itu, kita akan berdiri di hadapan Allah. Maka jangan biarkan dunia yang sementara membuat kita lalai terhadap akhirat yang kekal."

Semoga Allah menjadikan hati kita selalu terpaut kepada akhirat, menjadikan dunia berada di tangan kita, bukan di hati kita, menutup usia kita dengan husnul khatimah, dan mengumpulkan kita bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, serta orang-orang saleh di surga-Nya yang penuh kenikmatan abadi. Aamiin. 

0Komentar